Ancaman Demokrasi

Oleh: Nurwidiyanto

Ketua Tanfidziyah PCINU Tiongkok

NUTIONGKOK.COM- Penggunaan media sosial yang marak berisi ujaran kebencian serta hoaks telah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan proses demokrasi dan pelaksanaan Hak Asasi Manusia. Kepala Bareskrim Polri menyebutkan banyaknya konten ujaran kebencian dan hoaks yang mengaitkan suku, agama, ras, dan golongan (SARA) menunjukan Indonesia darurat kejadian luar biasa akal sehat (Kompas, 24/2). Apa jadinya jika informasi hoaks dan ujaran kebencian itu dikonsumsi oleh orang yang juga tidak punya akal sehat, maka dengan mudahnya mereka akan ikut- ikutan juga menyebar hoaks.

Hoaks dan ujaran kebencian tidak bisa dipungkiri menjadi penyebab pudarnya budaya sopan santun yang telah dimiliki oleh masyarakat. Budaya yang sejak dulu berperan penting untuk menciptakan suasana harmonis, saling menghormati dan saling menghargai. Namun apa hendak dikata, bangsa yang dulu dikenal ramah, saat ini menjadi bangsa yang pemarah. Warga yang terbiasa santun, sekarang menjadi warga yang gampang kasar dalam bertutur. Hoaks di tebar dimana-mana, ujaran kebencian merajalela.

Kita dapat melihat beberapa fenomena yang mulai terjadi menjelang pilkada tahun   2018, seperti maraknya informasi di media sosial tentang penyerangan seseorang yang diduga mengidap gangguan jiwa terhadap beberapa pemuka agama. Sebagian besar dari informasi tersebut ternyata hoaks. Juga yang terjadi di Jawa Tengah padahal baru memasuki masa kampanye ujaran kebencian disertai hoaks menyerang salah satu pasangan calon dengan  menyebut Kristen berkedok Islam.

Tak cuma itu, peristiwa yang sama juga terjadi di Tulung Agung, Jawa Timur dengan postingan yang menyatakan calon tertentu tidak pernah menunaikan ibadah salat Jumat, sementara yang lainnya salat Jumat. Beberapa fenomena tersebut tentu akan semakin masif dan dapat menimbulkan keresahan serta memecah belah masyarakat apabila tidak dikelola penanganannya dengan baik.

Membangun Literasi digital

Salah satu kunci untuk mencegah hoaks dan ujaran kebencian dimedia sosial adalah membangun budaya literasi digital. Kegiatan tersebut sebagai filter yang mangkus dan sangkil untuk mengurangi sikap tendensi dan mudahnya terprovokasi. Literasi digital juga dibutuhkan untuk membangun kesadaran setiap orang dalam bermedia sosial dengan lebih bertanggungjawab, mengajarkan Character Building pada pembaca, sehingga tidak mudah menjudge orang lain tanpa mengetahui akar perkara.

Melek literasi digital memberikan wawasan dan ketrampilan bagi mereka untuk merespon dengan segera apabila mendapatkan hoaks dan ujaran kebencian. Hal semacam ini sangat penting, mengingat sudah banyak terjadi pelaporan terhadap seseorang disebabkan berbagai kasus penganiayaan, hoaks, ujaran kebencian dan pelecehan lewat platform media sosial. Maka dari itu, inisiatif berbagai pihak dalam menyelenggarakan kampanye literasi digital meski dibangun di berbagai kalangan masyarakat.

Pemahaman Keagamaan

Penting untuk dipahami lebih jauh, kenapa seseorang mudah melakukan hoaks dan ujaran kebencian. Sebab, ini terkait dengan banyak aspek, salah satunya adalah minimnya pemahaman keagamaan. Orang yang melek agama akan memiliki kemampuan untuk melihat dan menganalisis berbagai macam persoalan serta mampu membangun relasi yang baik di atas perbedaan-perbedaan yang ada sehingga tidak mudah menebar hoaks dan kebencian.

Dalam konteks ini Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman pernah menasehati kita untuk tidak mudah menebar hoaks, sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risalah “ Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya”. Dengan maraknya informasi tidak benar saat ini maka seharusnya pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak pilihan terbaik adalah menyimpan informasi untuk diri sendiri, agar tidak termasuk dalam tindakan yang dilarang.

Nahdlatul Ulama sebagai ormas islam terbesar di Indonesia tahun lalu telah menggelar Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar di Lombok, NTB. Salah satu hasil rekomendasi Munas yang sangat menarik adalah soal ujaran kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan yang belakangan semakin masif dan sulit dikendalikan. Munas tersebut menyepakati ujaran kebencian termasuk kategori perbuatan tercela (akhlaq madzumah) yang seharusnya dihindari oleh setiap orang.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah membangun pendidikan politik dan wawasan kebangsaan dengan kesadaran memberikan akses yang luas kepada masyarakat untuk berkumpul, menyampaikan pendapat, dan mendapatkan informasi yang bermutu. Setiap elit politik, sosial budaya, keagamaan perlu memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk tidak mudah diprovokasi dan juga jangan ikut-ikutan memprovokasi dengan menebar hoaks dan ujaran kebencian terutama di media sosial.

Dengan demikian proses demokrasi khususnya pelaksanaan Pilkada maupun Pilpres kedepan dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar yang tetap menjunjung tinggi pelaksanaan nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Semua itu akan terwujud bila disertai tanggung jawab bersama.

Leave a Reply

Next Post

Romantisme Masjid Sunda Kelapa dan Gereja Paulus Jakarta

Tue Mar 6 , 2018
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email Oleh: Hasyim Habiby Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr PCI NU Tiongkok MBA Candidate Wuhan University of  Technology NU Tiongkok – Letak