Romantisme Masjid Sunda Kelapa dan Gereja Paulus Jakarta

Oleh: Hasyim Habiby
Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr PCI NU Tiongkok
MBA Candidate Wuhan University of  Technology

NU Tiongkok – Letak keduanya saling berdampingan,jika kita keluar dari pintu gerbang sebelah barat Masjid Sunda Kelapa di depannya persis adalah pintu masuk Gereja Paulus. Malah secara resmi keduanya sama-sama beralamatkan di Jalan Taman Sunda Kelapa, Masjid Sunda Kelapa berada di no. 16 sedangkan Gereja Paulus yang dikenal dengan “Gereja Ayam” berada di no. 12. Namun secara umur “sang abang” dibangun 34 tahun sebelumnya baru kemudian Masjid Sunda Kelapa didirikan pada tahun 1970 dimasa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Aly Sadikin. Keduanya pula selama ini telah menjadi rumah bagi umat Islam dan jamaat Protestan warga Menteng khususnya yang memang sangat plural setelah kawasan elit ini menjadi komplek perumahan petinggi Negara dan para duta besar negara sahabat.

Sore itu langit di atas Kawasan Menteng cukup cerah, saya berfikir untuk mendirikan sholat ketika beberapa take vlog saya rasa sudah cukup. Setelah mengambil air wudlu saya sengaja pelankan langkah kaki saya menuju serambi masjid yang berada di lantai 2 setelah melihat pemandangan di pelataran masjid terdapat anak-anak dikelompokkan secara terpisah dan mengikuti pelajaran yang dipandu satu ustadz/ustadzah setiap kelompoknya. Pekikan suaranya yang kurang beraturan dalam melantunkan surat-surat pendek mengingatkan suasana 10 tahun silam saat saya masih berapa di pondok pesantren. Namun berhubung waktu sudah menunjukan jam 16:00 saya segera mendirikan sholat ashar. Selain itu Pak Kyai Nur Alam juga sudah menunggu setelah sebelumnya saya membuat janji untuk melakukan wawancara. Usai wiridan sebentar saya kemudian menemuinya di salah satu ruangan kantor Dewan Kesejahterahan Masjid Sunda Kelapa (MASK).

Pertanyaan demi pertanyaan saya dijawab dengan spesifik, singkat dan padat persis seperti narasumber yang sedang malas bertemu wartawan, hingga pada akhirnya dirinya sedikit kaget dengan pertanyaan saya yang satu ini.

“Pak bagaimana selama ini hubungan Masjid dengan Gereja Paulus?” tanya saya lalu disambut senyuman layaknya narasumber ketika mendapatkan pertanyaan yang jawabannya menguntungkan dirinya

“Pertanyaanmu bagus sekali” Jawabnya
Saya melihat seolah dirinya tak sabar ingin menjawab pertanyaan saya, lalu dirinya membenarkan duduknya di atas sofa dan menjawab

“Ya selama ini baik-baik saja alhamdulillah, malah romantis ya mungkin” tuturnya

Dirinya menambahkan romantisme institusinya dengan Gereja Paulus dengan tradisi saling menghormati dan menghargai sudah terbangun sejak awal masjid ini dibangun. Bahkan sikap toleransinya Masjid Sunda Kelapa selalu dibalas dengan sikap yang serupa. Dirinya juga mengaku mengenal baik dengan petinggi-petinggi Gereja Paulus yang dikenal pribadinya yang santun dan lembut.

“Dari dulu tidak pernah ada masalah, bahkan sebagai contoh misalnya ya saat momen-momen tertentu kita saling membantu, saat Misa atau Natal mereka pakai parkir masjid kita,begitu juga sebaliknya ketika Idul Fitri misalnya mereka juga membukakan parkir buat kita” tambahnya

Kemudian dirinya menutup wawancara sore itu dengan menitip pesan kepada masyarakat untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Menurutnya dalam perspektif Islam, apabila dalam sebuah negara masyarakatnya beriman dan bertaqwa maka Allah akan memberkati dari pintu bumi dan langit. Dirinya mengatakan bahwa pesan taqwa dalam Al-qur’an itu “Atqokum” atau jadilah yang tertaqwa di hadapan tuhan.

“Ketaqwaan itu berdimensi vertikal dan horisontal,hablu minallah wa hablu minannas, Pertama dimensi vertikal itu ibadah Mahdhah, Ibadah dari seorang hamba langsung dengan tuhannya, kedua itu dimensi horizontal yaitu, hablu minannas,Ibadah seorang hamba dengan berinteraksi sesama hamba, Nah Taqwa dalam dimensi ini terimplementasi di sosial dengan menjadi orang yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri sekalipun dirinya butuh, Ini dalam persektif al-qur’an disebut itsar. Ini yang tertinggi, dalam Al-Qur’an dikatakan “Wayu’tsiruna ‘ala anfusihim walaukana bihim Khososoh”. Yang kedua itu ,Ihsan, Artinya mengalah seperti menunaikan zakat, memaafkan kesalahan orang lain dan berbagai kepedulian sosial. Nah tingkatan yang dibawahnya lagi itu adil, adil terhadap siapapun. Ini yang paling standar bagi umat Islam. Nah dalam Al-qur’an tadi dikatakan ‘’Atqokum” jadilah yang paling taqwa di hadapan tuhan” Tuturnya

Rangkaian penutup ini menjadi catatan penting sekaligus legitimasi sikap Masjid Sunda Kelapa terhadap Gereja Paulus. Karenanya setelah pamit dengan mencium tangannya saya harus mengkonfirmasi kebenaran implementasinya di Lapangan, Maka saya pilih narasumber berikutnya adalah juru parkir. Sambil berjalan mengarah ke parkiran untuk menemui juru parkir saya sesekali mengambil gambar beberapa sudut pelataran masjid yang penuh dengan kegiatan program Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa (RISKA) setelah saya mendapatkan info dari salah satu pengurus RISKA, Kiki.

Menurutnya RISKA merupakan salah satu remaja masjid yang memiliki prestasi nasional yang baik. Program-programnya mampu menjagkau masyarakat sekitarnya dan bahkan kota sekitarnya seperti Bekasi dan Tangerang. Sambil menuju ke parkir sesekali saya candid kembarannya Chelsea Islan atau Alissa Soebandono yang bersliweran.

Di parkiran saya bertemu dengan Pak Dendi (41), dirinya mengaku sudah bekerja sekitar 5 tahun di Masjid Sunda Kelapa sebagai juru parkir. Setelah sedikit basa-basi pertanyaan saya perdalam, ternyata, confirmed, apa yang disampaikan oleh Kyai Nur Alam benar adanya bahkan saya mendapatkan data tambahan

“Wah mas kita selama ini baik banget sama mereka, Contohnya ya, jadi setiap ahad/minggu kita kan ada kuliah dhuha, nah itu pas banget sama acara mingguan mereka kan, Jadi kadang mobil jamaah kita malah yang diluar (dijalan) karena sudah terisi mobil jamaat Gereja” jawabnya sambil tersenyum

Ini mungkin yang dimaksud dengan Itsar, Ihsan dan adil menurut kyai Nur Alam. Dendi juga menambahkan bahwa tidak jarang rekan-rekan muslim yang selama ini bekerja di gereja juga sering tidur di masjid atau ditempat istirahatnya.

Romantisme itu juga terlihat ketika jamaat gereja dan jamaah masjid bubar selesai acara dalam waktu yang bersamaan. Mereka saling sapa satu sama lain karena saling kenal atau sama-sama warga Menteng.

“Setiap acara gereja kita pasti dapat instruksi dari pengurus masjid, kita disuruh membantu parkiran mereka. Atau misalnya setiap minggu mas, jam sepuluhan lah, jamaah masjid bubar kuliah dhuha sedangkan jamaat gereja misa kloter pertama, itu kan bubar bareng. Yang saya lihat mereka saling sapa karena mungkin tetangga kan sama-sama orang Menteng atau temen kantor. Pokoknya nyenengin kalo diliyat” tambahnya

Sampai disini saya juga belum puas, saya berfikir hal ini harus terkonfirmasi oleh pihak gereja, setelah wawancara dengan juru parkir selesai saya menuju ke Gereja Paulus. Disana saya disambut pak Agus namanya, dirinya adalah salah satu pengurus gereja. Setelah saya menyampaikan tujuannya saya dibawa masuk ke kantor sekretariat gereja. Pak Agus mempersilahkan saya duduk di ruang tunggu dan dirinya menyampaikan maksud dan tujuan saya ke pimpinannya.

Saya duduk seorang diri, beberapa pengurus gereja silih berganti melewati koridor di depan saya dan selalu menganggukkan kepala dan memberikan senyuman.

Namun sayang setelah sekitar sepuluh menit saya menunggu, Pak Agus keluar dari sebuah pintu ruangan dengan muka sedikit mendung, ternyata dia membawa jawaban yang kurang menyenangkan. Sebelum dia menyampaikan pesan dia membenarkan duduknya lalu bicara pelan-pelan karena takut saya kecewa, terlihat sekali adab seorang penerima tamu dalam dirinya

“Maaf sekali mas Habiby bapak (pendeta/pimpinan gereja) belum bisa menemui kamu, dia sedang mempersiapkan pidato untuk misa besok pagi, namun lain kali pasti menemui kalau kamu datang kesini” tuturnya

Walaupun saya merasa komentar petinggi Gereja Paulus penting untuk tulisan ini, namun saya berusaha menunjukan wajah tidak kecewa dan tersenyum sekaligus saya menyampaikan permintaan maaf dan rasa bersalah saya karena tidak membuat janji sebelumnya. Setelah itu Pak Agus memberi saya kontak telepon, sembari jalan keluar dirinya sedikit cerita kegiatan Gereja Paulus sambil berseloroh kalau saya tidak datang pada waktu yang tepat

“Wah kamu datangnya sekarang sih, kamaren kita baru saja bikin acara dialog Bareng Pak Kyai Said (Ketua PBNU) sebelumnya juga sama Gus Mus dan Pak Quraish Sihab kita juga pernah ngundang beliau” tuturnya kemudian saya pamit dengan bersalaman.

Leave a Reply

Next Post

Bacalah Doa ini Sebelum Lamaran Nikah!

Tue Mar 6 , 2018
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email NUONLINE- Nikah merupakan ibadah yang disunnahkan dalam syariat Islam. Selain berfungsi utama untuk melahirkan anak-anak yang saleh dan salehah, nikah juga berfungsi untuk meredam pandangan mata kita dari hal-hal yang diharamkan yakni zina. Setiap manusia pasti menginginkan […]

PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA TIONGKOK (PCINU TIONGKOK)

Sanlitun SOHO, Gongren Tiyuchang North Road, Chaoyang District, Beijing

Telp: +86 13086805547, +86 15507839941 Email: pcinu_tiongkok1926@yahoo.com REDAKSI: redaksi@nutiongkok.com