Menjadi “SANTRI”

Oleh: Erlina Anggraini
Juara 1 Lomba Hari Santri PCINU Tiongkok
Mahasiswa S2 Northeast Normal University, Tiongkok.

NUTIONGKOK.COM– Santri, istilah yang sudah tidak asing ditelinga kita, terutama ditelinga orang Indonesia. Secara umum santri adalah sebutan untuk seseorang yang mempelajari ilmu Agama Islam di pondok pesantren, dan menetap di pondok tersebut hingga pendidikannya selesai. Namun ada juga istilah santri “kalong”, atau seseorang yang mempelajari ilmu agama islam di pondok pesantren tetapi ia tidak tinggal/menetap di pondok pesantren tersebut, alias pulang pergi dari pondok ke rumah. Intinya, santri adalah sebutan untuk seseorang yang mempelajari Agama Islam di pondok pesantren. Tapi baru-baru ini K.H. Mustafa Bisri, atau yang biasa kita sapa Gus Mus, mendefinisikan istilah santri dengan sedikit berbeda yakni “santri bukan hanya yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak santri adalah SANTRI”. Mereka adalah siapa saja yang memiliki pengetahuan keislaman mendalam yang bisa membuat cara pandangnya menjadi moderat, dan mampu menghormati keragaman yang Indonesia miliki. Menghormarti perbedaan agama, ras, suku, etnik, dan keberagaman lain dalam Bhineka Tunggal Ika maupun dunia.

Menteri Agama, Luqman Saifuddin, menambahkan bahwa yang berakhlak santri adalah mereka yang memiliki pemahaman dan pengamalan moderat, toleran dan cinta tanah air dengan dasar agama seperti “santri”, maka ia adalah “SANTRI”. Akhlak santri inilah yang menjadi tameng saat mereka harus terjun ke berbagai bidang di masyarakat. Apabila ada seseorang yang mengaku telah meniti pendidikan di pondok pesantren namun cara berpikir dan cara pandangnya kaku dan keras terhadap pemahaman agama, maka dia hanya memiliki gelar lahiriah sebagai santri namun tidak untuk jiwanya.

Santri juga merupakan istilah yang tidak bisa dilepaskan dari jihad resolusi 22 Oktober 1945. Dalam pelajaran sejarah yang kita pelajari di sekolah-sekolah umum, fakta tentang peran santri, ulama’ dan kyai di Indonesia dalam kemerdekaan Indonesia sangat jarang kita temui, bahkan nyaris tidak terungkap sebab minimnya informasi tertulis tentang tokoh-tokoh muslim heroik ini dalam mencapai kemerdekaan. Padahal sejak zaman Belanda menjajah Indonesia, sejumlah nama-nama Ulama’ selalu berperan aktif dalam perjuangan, seperti Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah (Tambak Beras), Syaikuna Cholil (Bangkalan), KH. Bisri Syansuri, Kyai As’ad (Situbondo), KH. Machfudz Sidiq (Jember), KH. Ma’shum (Lasem), dan kyai-kyai lainnya. Bahkan menurut keterangan Gus Mus dalam salah satu ceramahnya mengatakan bahwa ada salah satu leluhur Prof. Quraish Shihab bernama Sayyid Muhammad As’ad Shihab menegaskan peran Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari sebagai peletak pertama batu kemerdekaan Republik Indonesia dalam bukunya yang berjudul Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Wadhi’ al-Binati Istiqlali Indonesia.

Sampai disini kita tidak bisa meragukan lagi peran Kyai dan Santri di Indonesia dalam perjuangan bela negara. Tidak berhenti sampai disitu saja, peran santri di era setelah kemerdekaan pun tidak melulu berkutat dalam urusan “pondok” dan kitab kuning saja, melainkan peran santri mampu merambah ke ranah sosial, politik, hukum, ekonomi, seni, dan bidang lainnya di negara Indonesia. Para santri heroik terus bermunculan dari masa ke masa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebut saja KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yakni salah seorang cucu dari Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari yang terjun ke ranah politik dan menjadi Presiden RI ke-4, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) seorang kyai, penulis sekaligus budayawan masyhur, Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang gemar menggemakan syi’ar islam melalui pengajian Kyai Kanjeng dan lirik-lirik lagu yang beliau ciptakan, Machfud MD dan tentu masih banyak lagi para “santri” lainnya yang berjuang membela negara dan mempertahanan NKRI dengan keahliannya masing-masing.

Selanjutnya adalah kita, para kawula muda, bertugas memperbanyak wawasan dan ilmu agar kita memiliki pandangan dan pengamalan yang moderat terhadap isu-isu yang ada di sekitar kita. Tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang dibungkus dengan label “Islam” yang nyatanya sedikit pun tidak menyiratkan Islam yang Rohmatan lil ‘Alamin sama sekali, alias la’natan lil ‘alamin, naudzubillah. Tidak mengkafir-kafirkan sesama umat muslim, saling menghina atau saling memusuhi hanya karena berbeda pendapat, beda pemikiran, beda madzhab, atau bahkan hanya karena beda partai politik. Meneruskan cita-cita, pemikiran dan pengamalan Gus Dur dalam menciptakan kedamaian bukan hanya antar agama di Indonesia, melainkan antar bangsa dan negara di dunia.

Pemikiran Gus Dur tersebut terangkum dalam 4 pola yang harus saling berkaitan, yakni Ukhuwah Nahdliyyah, Ukhuwah Islamiyyah, Ukhuwah Basyariah, dan Ukhuwah Insaniah. Ukhuwah Nahdliyyah berarti persaudaraan sesama NU, tidak dibatasi perbedaan partai politik apapun. Sedangkan Ukhuwah Islamiyyah berarti persaudaraan yang tidak dibatasi perbedaan amaliah, seperti NU dan Muhammadiyah. Sementara Ukhuwah Basyariah merupakan persaudaraan sesama bangsa yang tidak dibatasi kedudukan atau status. Dan Ukhuwah Insaniah berarti hubungan secara manusiawi. Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia inilah yang menurut KH. Achmad Siddiq sebagai wujud final dari Ukhuwah Basyariah. Semua pola ini tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dengan begitu identitas Islam yang sesungguhnya akan nampak, yakni agama yang toleran, anti-terorisme, ramah dan mencintai kedamaian. Serta kerukunan dan kedamaian nasional dan internasional akan tercipta dengan apik.

Meski sudah tidak lagi tinggal dan belajar di pesantren atau memang tidak pernah sama sekali merasakan pendidikan di pesantren, setidaknya kita perbanyak membaca karya-karya para ulama’ kita atau mendengarkan nasehat-nasehat mereka dari berbagai media, meneladani sikap dan perilaku mereka, dan mengamalkan Islam Rohmatan lil ‘Alamin atas seluruh keberagaman. Karena pada dasarnya Allah lah yang menginginkan keberagaman ini ada, jika tidak, Allah Maha Kuasa untuk mengubah keberagaman ini menjadi keseragaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Himbauan PCINU Tiongkok Tentang Penentuan Tanggal 1 Rajab 1439

Sun Mar 18 , 2018
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email PCINU Tiongkok dengan ini menghimbau kepada seluruh warga Nahdliyin di Tiongkok dalam hal penentuan tanggal 1 Rajab sebagai berikut: 1. Pentingnya mengetahui kapan jatuhnya tanggal 1 Rajab, sebagai dasar untuk pelaksanaan ibadah; 2. Perbedaan letak geografis yang […]

PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA TIONGKOK (PCINU TIONGKOK)

Sanlitun SOHO, Gongren Tiyuchang North Road, Chaoyang District, Beijing

Telp: +86 13086805547, +86 15507839941 Email: pcinu_tiongkok1926@yahoo.com REDAKSI: redaksi@nutiongkok.com