Mencari  Santri

Oleh: SONIA SO’IMATUS SA’ADAH

Juara 2 Lomba Artikel Hari Santri PCINU Tiongkok

NUTIONGKOK.COM- Meneguhkan peran santri, awalnya tema ini menimbulkan tanda tanya dalam benak penulis. Santri tak perlu diragukan lagi perannya dalam membela negara, cinta tanah air adalah bagian dari keimananya. Jika tak percaya, tengoklah sejarah kemerdekaan bangsa kita, saat sekutu menyerang Surabaya pemerintah pusat tidak mengambil tindakan, Bung Tomo segera menemui KH Hayim Asy’ari. Fatwa dan Resolusi Jihad Nahdlotul Ulama adalah bukti perjuangan mereka melawan penjajah. Dengan kata lain, umat Islam, khususnya kiyai dan santri, memiliki peran yang penting, jika tidak ingin mengatakan peran utama, dalam kemerdekaan Indonesia. Ini bukanlah pendapat orang Indonesia atau warga  Nahdlatul ‘Ulama, ini adalah fakta sejarah yang disampaikan Muhammad Asad Syihab dalam bukunya  al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari  Wadhi’u  Lubnati Istiqlali Andunisya , demikian disampaikan Gus Mus. Dalam sejarah, Islam menjadi pemersatu kita, melwan siapapun yang membahayakan rumah kita, Indonesia.

Sayangnya, berdasarkan Setara-institute.org, penelitian yang dilakukan   Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukan hasil yang mencengangkan.  Hasil penelitian yang dilakukan di tiga daerah, Salatiga , jateng, dan singkawang menunjukan bahwa 85% siswa mendukung Indonesia menjadi negara Islam. Dan sebanyak  7.2% mendukung ISIS. Banyak dari mereka yang memperoleh pemahaman ini dari guru dan kawan 57.6. % dan 48.1% di sekolah

Hal yang lebih memperihatinkan lagi, karena hal ini bukan lagi di ranah ‘ide’, tapi sudah menjadi tindakan. Seperti pembubaran misa beberapa waktu yang lalu di Bandung,  penolakan rencana Kebaktian Nasional Reformasi Gereja 500 tahun di Yogyakarta pada 12 oktober lalu, penolakan pembangunan Sekolah Santa Laurensia di Tanggerang, dan pembakaran balai pengajian Masjid Taqwa Muhammadiyah di Aceh karena tersebar isu bahwa Muhammadiyah adalah Wahabi. Tak heran, beberapa tahun terakhir  intoleransi Indonesia meningkat dan menjadi sorotan dunia internasional.Berbagai peristiwa di tanah air menampar kita, ada yang tidak beres dengan kita.

Mencari Santri

Indonesia bukan hanya menjadi negara muslim-majority country terbesar di dunia. Tetapi Islam menjadi agama terbeasar di Indonesia, lebih dari 80% penduduknya beragama Islam. Berbeda dengan India, meski  India adalah salah satu negara yang memiliki banyak penduduk muslim di dunia, hanya  14.2% muslim dari total seluruh penduduknya. Ini berarti warga muslim Indonesia memiliki tanggung jawab yang besar untuk  menciptakan perdamaian dan menjaga nama baik bangsa.  Dan tentu saja, tidak ada yang lebih bertanggung jawab untuk meraih kedua hal ini dibandingkan santri. Lalu siapa santri?

Penulis setuju bahwa setiap orang yang berakhlak adalah santri, tidak harus selalu berada di dalam atau alumnus Pondok Pesantren  untuk menjadi santri. KBBI mendefinisikan santri dengan, “orang yang mendalami agama Islam, orang  yang beribadat dengan sungguh-sungguh, orang yang saleh.”. Tapi disini penulis ingin menekankan poin pertama dalam definisi KBBI, mendalami agama, bahkan tidak semata mendalami, tetapi di bawah bimbingan Kiyai. Para ulama dan cendikiawan bukanlah katak dalam tempurung, mereka memiliki banyak guru. Seperti Syekh Hasyim Asy’ari yang belajar pada beberapa ulama terkemuka di Hijaz pada waktu itu, sebut saja Syekh Ahmad Amin, al-Sayyid Sulthan bin Hasyim, al-Sayyid Ahmad Zawawi, dan lain sebagainya. Menjaga silsilah dalam menuntut ilmu adalah menjaga otentisitas ilmu itu sendiri. Karena itu, kita mengenal ijazah, yang diadopsi Bahasa Indonesia menjadi ijazah.

Hal ini perlu ditekankan, karena saat ini ada banyak orang yang semangat dalam beragama, tapi memiliki pemahaman yang keliru karena ia belajar tanpa bimbingan Kiyai, seperti  lone wolf terrorism (orang yang menjadi teroris dengan sendirinya karena mempelajari dan membaca informasi yang menyesatkan)

Tentu saja santri bisa menjadi apapun, dokter atau arsitek misalnya, hal ini sudah  dicontohkan para Ulama pendahulu  kita. Sebagai apapun, santri memiliki pondasi  pemahaman agama yang kokoh, sehingga  mampu menunjukan keindahan Islam yang penuh kasih sayang.

Ada dua ciri utama santri.

Pertama, santri mencintai  perbedaan. Bagaimana tidak mencintai? Perbedaan adalah hal yang alamiah (sunnatullah). Tuhan sendiri yang menciptakan perbedaan, meski Ia mampu menjadikan semua orang beriman padaNya, meski Ia kuasa menyeragamkan hambaNya dalam satu pilihan.

Ironisnya, kita sering terpecah belah oleh hal-hal yang furu’  dan ijtihadi, misalnya membaca nama Allah untuk sembelihan. Padahal semuanya mendapat pahala dalam ijtihad, 2 pahala bagi yang benar, dan 1 pahala bagi yang tidak tepat. Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar dan tepat.

Tak kalah hebatnya adalah bentuk negara. Bagi Nahdlatul Ulama, bentuk negara adalah hal yang bersifat ijtihadi karena Rasul tidak memberi jawaban, meski ditanya berkali-kali oleh para sahabat, bagaimana pemerintahan sepeninggal beliau. Negara adalah hal yang bersifat duniawi, dan sebagaimana sabda beliau, “kalian lebih tau urusan dunia kalian”. Bahkan meski diantara kita adalah pendukung Khilafah, suatu hal yang bodoh melakukan kekerasan dan membunuh nyawa tak berdosa untuk untuk meraih tujuan tersebut.

Kedua, amar ma’ruf bi ma’ruf. Penulis  ingin tertawa sekaligus marah mendengar ilustrasi yang diberikan Gus Mus. Ada seseorang tersesat  ingin ke Jakarta, tapi malah ke Surabaya. Warga setempat bertanya.

Mau kemana Anda?”

Jakarta

Bodoh, ini Surabaya!” Lalu orang tersebut dipukuli.

Kebenaran memiliki 2 unsur, benar dan baik. Benar kandungannya dan baik cara menyampaikannya. Agungnya akhlak tak bisa ditawar, sampai-sampai Rasul menyatakan bahwa diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, bukan untuk membuat umat manusia menjadi beriman, karena hidayah adalah hak prerogratif Allah. Karena itu Syekh  Jamaluddin bin Muhammad al-Qosimy dalam Mau’izhatul Mu’miniin menyampaikan 3 hal yang harus kita miliki untuk menyampaikan amar ma’ruf; ilmu, wara’, dan akhlak. Dan ingat pesan Syekh Jamaluddin, “ dan bukan termasuk orang yang berakal, seseorang yang mencuci darah dengan darah atau dengan air seni”

Kemana santri?

Intoleransi  di negeri kita meningkat,  bahkan reputasi kita sebagai negara yang moderat dan melindungi kebebasan beragama mulai dipertanyakan.

Kemanakah santri yang perbedaan pendapat adalah khazanah kekayaan yang ia banggakan?

Kemanakah santri yang kesantunan dan keramahan adalah caranya menyampaikan kebenaran?

Kemanahkah santri yang  bersamanya orang lain merasakan keamanan dan perlindungan?

Seperti untuk meraih kemerdekaan, saat ini dan seterusnya, santri dibutuhkan dan  semakin dibutuhkan. Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Next Post

SANTRI SEBAGAI PUSAT PERUBAHAN

Thu Mar 22 , 2018
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email Oleh: Mohamad Tafrikan Juara 3 Lomba Artikel Hari Santri PCINU Tiongkok Mahasiswa S3 Beijing Institute of Technology NUTIONGKOK.COM- Kata “santri” sangatlah mudah diucapkan dan nyaman didengarkan, serta membuat tenang di hati. Istilah santri sangat populer di kalangan […]