SANTRI SEBAGAI PUSAT PERUBAHAN

Oleh: Mohamad Tafrikan

Juara 3 Lomba Artikel Hari Santri PCINU Tiongkok

Mahasiswa S3 Beijing Institute of Technology

NUTIONGKOK.COM- Kata “santri” sangatlah mudah diucapkan dan nyaman didengarkan, serta membuat tenang di hati. Istilah santri sangat populer di kalangan pesantren, dia adalah seorang yang dengan niat kuat serta tekat yang mantab menjalani kehidupan sehari-hari di pondok pesantren. Setiap hari menekuni dan mengkaji kitab kuning, kitab yang tanpa harokat dan tanpa makna, serta mengabdi kepada sang kyai. Sebagai hamba sahayanya sang kyai, sesuai dawuh sahabat Ali Karroma Allahu Wajhahu :

اناعبدمن علمني حرفا

“Saya adalah hamba/budak dari orang yang telah mengajariku walau satu huruf”

Mengharap ridlo sang kyai adalah hal yang lebih utama dari segala proses yang ada di pondok pesantren. Karena sang kyai sebagai orang tua santri ketika masih di pondok pesantren dan setelah boyong dari pesantren. Santri mendapatkan tempa an setiap hari dari sisi keuletan, kesederhanaan, kebersamaan, ketawadluan, dan kedisiplinan. Sehingga tak heran jika lulusan pesantren adalah “calon menantu idaman”. Pada era globalisasi ini, santri dituntut juga dalam hal bidang ilmu sains dan teknologi. Karena zaman sudah berubah pesat dengan kemajuan ilmu teknologi yang serba modern. Sehingga santri tak cukup hanya belajar ilmu salaf atau keagamaan, seperti pada zaman dahulu.

Pun, demikian para kyai sekarang membangun pondok pesantren modern dengn system Boarding School. Ini merupakan langkah luar biasya, karena sudah waktunya santri juga ikut andil memberikan kontribusi nyata di bidang sains dan teknologi di masa mendatang. Sehingga santri di dunia pesantren akan mendapatkan ilmu keagamaan yang cukup dan ilmu sain dan teknologi juga tak kalah dengan lulusan sekolah umum. Tak cukup disitu langkah santri untuk ikut andil di masa mendatang, santri juga harus berpikiran bagaimana dapat melanjutkan di perguruan tinggi, bahkan sampai mencapai gelar seorang Guru Besar.

Sebagai santri yang di dalamnya mempunyai jiwa patriotisme yang tinggi juga harus dibentuk dari sekarang. Karena santri pada era penjajahan melawan langsung para penjajah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, santri zaman sekarang harus bisa mempunyai semangat yang sama dalam hal mengisi kemerdekaan ini. Banyak yang bisa dilakukan oleh seorang santri, diantaranya menjaga kesatuan NKRI, meningkatkan kuwalitas akademik dan non akademik, dan masih banyak lagi. Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan mengulas peran santri dalam mengisi kemerdekaan di bidang akademik.

Santri zaman sekarang sebisanya mempunyai cita-cita mencari ilmu sampai ke strata tertinggi. Santri umumnya dari kalangan menengah ke bawah, masalah financial adalah hal yang utama seorang santri enggan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Sekarang, beasiswa sangat banyak tersedia, salah satunya dari Kementerian Agama, dengan nama “Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB)”. Penulis mendapatkan beasiswa tersebut tahun 2008 di Jurusan Matematika Institut Teknologin Sepuluh Nopember Surabaya. Syarat untuk ikut tes PBSB adalah harus sebagi santri aktif di sebuah pondok pesantren di Indonesia. Alhamdulillah, dengan lantaran PBSB penulis bisa mendapatkan ilmu dan gelar S,Si. Beasiswa yang lainnya juga tak kalah fasilitasnya, seperti Bidik Misi dan lain-lain. Sehingga zaman sekarang sudah tidak bisa lagi beralasan santri tidak bisa kuliah dengan alasan biaya.

Setiap cita-cita yang luhur pasti ada saja rintangan yang menghadang, dan rintangan sudah menjadi cemilan setiap hari santri di pondok pesantren. Sangatlah beruntung kita sebagai santri yang sudah biasa hidup sederhana. Karena apabila santri diberi kesempatan kuliah di luar negeri, khususnya di negeri china sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW

اطلب العلم ولوبالصين

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China

Maka santri akan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan kultur budaya serta tahan banting dalam hal menghadapi proses.

Santri zaman sekarang diharapkan menjadi pusat perubahan, menjadi pelaku perubahan dan penjawab tantangan zaman. Untuk itu, santri harus punya bekal pendidikan yang cukup secara formal. Melanjutkan kuliah sampai S3 bahkan diluar negeri adalah cita-cita yang luhur dan harus ada di jiwa santri.

Untuk bisa menjadi santri yang bisa diandalkan, santri tentunya harus menyiapkan bekal dari sejak dini dan pandai-pandai mensiasati bekal apa yang lebih tepat bagi dirinya sendiri dan bagi ummat di masa yang akan datang. Mulai dari sekolah tingkat dasar, santri harus membiasakan dengan bahasa arab dan bahasa inggris. Karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur‘an, bahasa yang harus dikuasai sebelum mempelajari isi kandungan Al-Qur’an. Karena sebaik-baik orang adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an, kemudian mengamalkannya.

Selain bahasa arab, santri juga harus membiasakan menggunakan bahasa inggris, karena untuk bisa mengikuti kemajuan zaman dan mempelajari ilmu paling muttahir, bahasa inggris adalah pengantarnya. Untuk itu membiasakan menggunakan bahasa inggris di kehidupan sehari-hari adalah hal yang tak kalah penting untuk meningkatkan kwalitas diri santri. Pada zaman sekarang, begitu banyaknya beasiswa mensyaratkan kemampuan bahasa ingris calon penerima beasiswa minimal TOEFL 500 atau ITP 6,5. Tentunya ada alasan tertentu dari pemberi beasiswa kenapa begitu pentingnya kemampuan bahasa inggris. Karena sudah tidak bisa dielakkan lagi, apabila mengkaji jurnal atau referensi, tentu sangat dibutuhkan kemampuan bahasa inggris.

Bahasa arab dan bahasa inggris keduanya sama-sama kebutuhan primer santri masa kini. Pembiasaan dan penggunaan kedua bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari adalah sudah menjadi keharusan. Tanpa pembiasaan memakai bahasa asing, santri akan kesulitan jika suatu saat bahasa asing digunakan. Kemampuan bahasa asing adalah modal yang sangat berharga bahkan tak bisa dibeli dengan rupiah. Sebab, jika santri ingin kuliah di luar negeri, meskipun dapat membayar kuliah dengan tanpa beasiswa, tapi kalau tidak mempunyai kemampuan bahasa asing, bisa dipastikan santri tersebut tidak bisa lulus dari kampus. Apalagi jika seorang santri tidak mempunyai kemampuan financial dan ingin sekali kuliah di luar negeri, maka modal berharganya adalah kemampuan bahasa asing.

Dapat kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh adalah harapan dari semua orang yang ingin kuliah dan orang tua. Sehingga persaingan untuk mendapatkan beasiswa kuliah sangatlah ketat. Banyak yang ikut kursus bahasa asing seperti di Pare-Kediri dan tempat kursus lainnya. Tentunya menghabiskan biaya cukup banyak juga dan tentunya waktu tidak singkat. Mereka berharap mendapatkan beasiswa semua dari kemampuan bahasa asing mereka. Sehingga seorang santripun harus terus meningkatkan kemampuan bahasa asing, demi mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh.

Pada tahun 2016, Kepala Pusat Pusat Pengembangan Penelitian dan Pendidikan Pelatihan Kementerian Agama H. Abdul Jamil mengatakan, “Jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 pondok pesantren” (Sumber: Republika.co.id). Jumlah santri yang mencapai 3,65 juta tersebut, anggap saja sepuluh persennya yaitu 365.000 santri mampu menjadi Guru Besar. Betapa luwar biasanya kekuatan sumber daya yang di miliki Indonesia untuk membangun negeri di masa mendatang. Tidak hanya di sisi kemampuan akademik yang dimiliki, tetapi jiwa santri yang sampai mati menjaga NKRI  yang tak diragukan lagi.

Di masa mendatang, dibutuhkan pemimpin, birokrat, teknisi, ahli hukum, dan para ahli lainnya yang mumpuni dalam bidangnya serta mempunyai ahlak yang mulia. Maka dari itu, santrilah yang berpeluang untuk didorong dari sekarang untuk bersiap bersaiang dengan non-santri. Jika pada saatnya santri sudah mumpuni dan siap terjun ke masyarakat, maka tujuan Negara Indonesia menjadi “بلدة طيبة ورب غفور” sangat mudah diwujudkan. Karena saat ini Indonesia sedang krisis SDM yang punya ahlakul karimah.

Banyak yang sudah lulus S3, politikus, pimpinan daerah, dan pejabat penting lainnya, tersandung berbagai masalah. Bukannya mereka tidak mampu, tetapi ahlak dan karakternya yang buruk. Sehingga Negara Indonesia tertinggal dengan Negara-negara lain. Salah satu jalan untuk memperbaiki kondisi Negara tercinta Indonesia adalah menyiapkan sebanyak mungkin santri-santri Indonesia kuliah di luar negeri sampai tingkat Doktoral bahkan Guru Besar. Agar ke depan santri yang secara pendidikan mumpuni dan punya karakter karimah memegang peran penting membangun negeri tercinta Indonesia. Aamiin.

Leave a Reply

Next Post

Rasulullah Bersumpah Tiga Hal Ini Pasti Terjadi

Mon Mar 26 , 2018
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email NUTIONGKOK.COM– kitabnya al-Jâmi’us Shaghîr merekam satu sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. ثلاث أقسم عليهن: ما نقص مال قط من صدقة فتصدقوا، ولا عفا رجل عن مظلمة ظلمها إلا زاده الله تعالى بها عزاً فاعفوا يزدكم الله عزاً، ولا فتح […]