Aura tradisi NU dari Selatan hingga Utara Tiongkok

Oleh: Imron Rosyadi Hamid

Rois Syuriah PCINU Tiongkok

NUTIONGKOK.COM- Sejarah masuknya Islam di Tiongkok sebetulnya jauh mendahului masuknya agama kristen dan katolik yang baru dibawa secara massif oleh masyarakat Eropa di abad 18. Islam memasuki negeri tirai bambu dimulai era kepemimpinan khulafaurrasyidun ke-3 yakni Khalifah Ustman bin Affan. Jejak-jejak peninggalan sejarah Islam di sisi selatan Tiongkok bisa ditelusuri melalui makam sahabat nabi Sa’ad bin Abi Waqqas (wafat Tahun 674 M) yang terletak di Guangzhou dan sampai sekarang sering dikunjungi para peziarah muslim dari berbagai dunia, sebuah tradisi yang mirip dengan amaliyah Nahdliyin.

Di tengah daratan Tiongkok, peninggalan dan situs muslim bisa ditelusuri di Kota Xian, sebuah kota kuno yang berumur ribuan tahun yang penuh dengan peninggalan zaman prasejarah. Beberapa tahun lalu saya sempat mengunjungi Kota Xian dan Masjid Raya Xian yang menjadi masjid tertua dan terbesar di China. Untuk bisa mencapai masjid ini, kita akan melewati jalan yang dipenuhi pedagang-pedagang muslim yang menjual berbagai dagangan mulai aneka jenis makanan halal hingga merchandise bercirikan Islam. Pemandangan semacam ini bisa kita saksikan di Indonesia jika kita mau memasuki Masjid Ampel di Surabaya. Bedanya, pengunjung di kampung muslim Xian ini juga dipenuhi turis-turis mancanegara selain masyarakat Muslim Tiongkok.

Masjid Xian al ’Adzim (Xian Great Mosque) dibangun pada Tahun 742 M dimasa dinasti Tang atau sudah berumur lebih dari 1275 tahun lalu berdiri di atas tanah seluas 13.000 m2 berada di sisi barat laut Kota Xian. Pada Tahun 1956, Masjid ini dijadikan situs sejarah dan budaya yang dilindungi Pemerintah Tiongkok (The site under protection) di bawah Pemerintah Propinsi Shaanxi. Uniknya di Masjid Xian ini terdapat sebuah bangunan semacam museum yang di dalamnya memasang gambar 3 (tiga) gambar masjid terbesar di dunia : Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Istiqlal di Jakarta, dan Masjid Raya Xian sendiri. Munculnya gambar Masjid Istiqlal di Xian ini tentu saja membanggakan kita, betapa masyarakat muslim Tiongkok memberikan apresiasi dan pengakuan atas kemegahan masjid kebanggaan masyarakat Indonesia itu.

Di bagian utara Tiongkok, tempat saya menimba ilmu, tepatnya di Changcun, Ibukota Propinsi Jilin, terdapat sebuah masjid yang cukup besar dan menjadin rujukan destinasi wisata muslim di sana.  Masjid Raya Changcun setiap tahun selalu mengadakan Expo dan bazzar muslim selepas hari raya Iedul Fitri. Yang unik dan mengingatkan saya pada tradisi cinta tanah air yang selalu disuarakan oleh warga NU adalah terdapat tulisan Hubbul Wathan Minal Iman dalam bahasa arab di sisi barat masjid raya Changcun. Saya tidak tahu latar belakang penulisan kalimat tersebut di kompleks masjid Changcun ini, tetapi tulisan itu melekat sekali dalam ingatan saya karena menjadi bagian dari lagu Ya Lal Wathon yang digubah KH. Abdul Wahab Hasbulloh di era kebangkitan nasional. Wallahu a’lam bisshawab

Leave a Reply

Next Post

PERNYATAAN SIKAP PCINU TIONGKOK

Mon Apr 2 , 2018
NUTIONGKOK.COM-Berdasarkan berita Harian Republika tanggal 1 April 2018 yang berjudul : Di China Pelajar Indonesia dapat Pelajaran Ideologi Komunis, maka dengan ini Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Tiongkok menyatakan sikap sebagai berikut : 1. Berdasarkan pengalaman kami, universitas di Tiongkok tidak mengajarkan idelologi komunisme sebagaimana yang Saudara beritakan. 2. Kami KEBERATAN […]