Indonesia: Harmoni dalam Keberagaman

Budy Sugandi

Mahasiswa Doktoral di Southwest University, Tiongkok

Pada satu kesempatan waktu siang saat saya hendak ke masjid untuk menunaikan Shalat Jumat, seorang teman yang merupakan penduduk asli sekitar kaget dan bertanya banyak hal perihal sarung yang saya kenakan. Usut punya usut, ternyata di Turki terasa sangat aneh ketika seseorang beribadah—shalat—menggunakan sarung. Hal ini berbeda 180 derajat dengan budaya kita di Tanah Air yang “biasa saja” ketika seseorang menggunakan sarung saat shalat.

Saya merasa tidak banyak orang Turki yang tahu bahwa orang Indonesia sering mengenakan sarung ketika shalat, sama halnya dengan keterbatasan masyarakat Indonesia yang mengetahui bahwa orang Turki terbiasa menggunakan sepatu meskipun masuk musim panas. Inilah yang dikatakan bahwa setiap tempat memiliki budayanya masing-masing. Pakar Sosiologi Ritzer (2003) mengatakan bahwa “semua pekerjaan intelektual manusia dibentuk dari lingkungan sosialnya (social setting)”.

Ketika kita menganalisis lebih dalam antara teks dan konteks maka pertanyaan “sah” atau “tidak sah” bisa berubah menjadi “pantas” atau “tidak pantas”, dan seterusnya. Kita tidak boleh dengan mudah menyalahkan orang lain ketika berbeda dengan kebiasaan kita. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (w. 751 H/1350 M) dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in mengakatakan: “Perubahan fatwa dan adanya perbedaan hukum tentangnya disebabkan faktor zaman, faktor tempat, faktor situasi, faktor niat, dan faktor adat”.

Indonesia bagi saya bukanlah sekadar tanah kelahiran, Indonesia adalah anugerah Tuhan yang begitu indah. Kaya alamnya, beragam suku budayanya, dan ramah manusianya. Terlahir sebagai orang Indonesia itu adalah anugerah terindah, dan meninggal di Indonesia itu adalah berkah, Jika MAW Brouwer berkata, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum,” maka bagi saya “Indonesia diciptakan Tuhan dengan penuh riang tawa mesra.” Indonesia adalah Negara yang kaya. Dari kekayaan tersebut kita harus bersatu dalam satu kesatuan dalam wadah NKRI, serta terus menggelorakan rasa persatuan dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Potensi kekayaan ini jika mampu dirangkai dengan semangat kebersamaan akan menjadi kekuatan mahadahsyat di tengah problematika bangsa.

Pemerintah Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam memformulasikan pengaruh dari luar, baik pengaruh dari warga asing maupun masyarakat Indonesia sendiri yang kembali dari luar negeri. Bisa dibayangkan ketika setiap putra-putri Indonesia kembali ke Tanah Air dari perantauannya kemudian membawa ideologi masing-masing yang dianggap paling benar. Kita boleh saja memiliki sebaran pelajar yang menuntut ilmu ke Amerika, Jerman, China, Turki dan seterusnya, namun tidak harus mengadopsi idiologi untuk diterapkan di tanah air kita. Bukankah kita memiliki ideologi Pancasila dan semboyan luhur Bhinneka Tunggal Ika sudah terbukti bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dan harus terus dilestarikan?

Selain itu, peran KBRI dan KJRI yang tersebar di banyak negara harus membekali WNI sebagai filter terhadap paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila. Pancasila nilainya sangat ideal bahkan sejalan dengan nilai esoteric ajaran Islam. Bertuhan dengan tauhid, menghargai kemanusiaan secara universal, menghargai perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, tetapi tetap bertekad untuk bersatu, menjalankan sistem demokrasi dengan bermusyawarah dan bermufakat, mengupayakan kondisi sosial yang adil dan menyeluruh.

Nilai-nilai yang menyimpang dari Pancasila harus dihapuskan agar keutuhan bangsa tetap terjaga, tidak lagi mengedepankan suku/golongan/kelompok tertentu. Harus diakui, Indonesia secara jelas terdiri atas berbagai suku, kelompok, dan golongan yang kemudian membentuk satu tekad persatuan dalam konteks “Bhineka Tunggal Ika”.

Kita tidak boleh lupa dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia, khususnya metode penyebaran Islam yang digunakan oleh Wali Songo. Wali Songo mampu membaca keadaan saat itu, mengajak dengan asas kebersamaan dan agama, mengasimilasikan nilai dan mengombinasikannya dengan budaya, sehingga agama bisa diterima oleh masyarakat. Ini sejalan dengan metode Rasulullah dalam berdakwah pertama kali, begitu lentur mengikuti kondisi konteks masyarakat sosial pada masa itu, buktinya dengan diturunkan ayat satu per satu sehingga ada proses dinamika dan dialektika dalam memberikan pemahaman orang-orang tentang ajaran Islam. Misalnya larangan meminum khamr, awalnya dikatakan bahwa manfaatnya lebih kecil dari dosanya (Al-Baqarah: 219), kemudian larangan mendekati salat dalam keadaan mabuk (An-Nisa: 43) dan terakhir mengatakan bahwa minuman keras itu merupakan perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan (Al-Maidah: 90-91).

Indonesia memang bukan “the heartland of Islam”, pusat Islam seperti negara di timur tengah Khsusus Arab Saudi namun sebagai “the least Arabized muslim country”, mayoritas muslim meskipun pengaruh Arabnya tidak kental. Pertanyaan, apakah kualitas Islam di Indonesia selalu lebih rendah dari Islam di Arab? Saya yakin tidak.

Mengapa perempuan Turki menggunakan kerudung dengan corak warna cerah? Perempuan di Arab Saudi menggunakan kerudung panjang dan cadar? Pertanyaan-pertanyaan terkait harus dijawab dengan pemahaman menyeluruh sehingga Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia terhindar dari sifat eksklusif, judgemental, serta mampu menjaga identitas dan menebarkan Islam rahmatan lil alamin bagi seluruh manusia, meminjam istilah Gus Mus “Islam kita itu ya Islam Indonesia, bukan Islam Arab Saudi.

 

 

Leave a Reply

Next Post

Meneguhkan Peran Santri Masa Kini

Sun Nov 4 , 2018
Setyo Pamuji Mahasiswa Central China Normal University, Tiongkok Tak dipungkiri, Santri memiliki peran besar pada negeri, bahkan pada masa-masa awal kemerdekaan bangsa Indonesia sekalipun. Santri turut andil, mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk negara tercinta. Pun demikian, pada masa kini tentunya santri memiliki peran strategis sebagai pelopor pergerakan kemajuan bangsa. […]