Meneguhkan Peran Santri Masa Kini

Setyo Pamuji

Mahasiswa Central China Normal University, Tiongkok

Tak dipungkiri, Santri memiliki peran besar pada negeri, bahkan pada masa-masa awal kemerdekaan bangsa Indonesia sekalipun. Santri turut andil, mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk negara tercinta. Pun demikian, pada masa kini tentunya santri memiliki peran strategis sebagai pelopor pergerakan kemajuan bangsa. Santri menjadi garda depan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bukan tanpa alasan, Santri selalu memiliki peran penting dari masa ke masa. Masa kolonialisme, santri turut andil langsung ke medan perang berjihad untuk membebaskan negeri dari belenggu penjajah. Pada masa setelah kemerdekaan, Santri juga turut mempertahankan kemerdekaan ditandai dengan adanya Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945 yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Asyari, serta masih banyak lagi peran setelah itu.

Santri adalah sosok yang terdidik akal dan hatinya. Itu adalah dua elemen unggul yang membedakan antara santri dengan cendekiawan lainnya. Orang boleh pandai setinggi langit, namun jika hati tidak terdidik justru dikhawatirkan akan membuat kerusakan, dan sebaliknya jika hanya hati yang terdidik maka akan sangat sulit untuk berkompetensi di era globalisasi saat ini.

 

Fikir dan Dzikir

Lebih lanjut, terdidik akal akan mewujudkan generasi yang mau dan mampu berfikir, sedangkan terdidik hati akan membentuk pribadi-pribadi yang selalu terhubung, dzikir kepada sang Pencipta, shingga tindak-tanduknya selalu merasa terawasi untuk selalu pada koridor kebenaran.

Ini tak lain juga berkat banyaknya ajaran-ajaran Islam kepada Santri dalam kitab suci yang banyak menekankan pada akal untuk berfikir. Harun Nasution dalam bukunya Islam Rasional (1996) mengemukakan bahwa agama islam sangat menghargai akal. Al-Qur’an dan Hadist banyak yang membahas pentingnya akal. Ini dapat diketahui dengan banyaknya kata yang menyebutkan akal dalam kitab tersebut. Berdasarkan catatan Harun, ada kata ya’qilu (memakai akal) terdapat 48 ayat. Kata Nazhara (melihat secara abstrak) ada 30 ayat. Dalam bahasa indonesia kata ini menjadi nalar, penalaran dan sebagainya. Selain itu, ada 19 ayat yang menyebutkan kata tafakkara (berfikir). Pada sisi lain, ada kata fahima yang mengharuskan untuk menggunakan akal, untuk memahami sesuatu dengan menggunakan akal. Seterusnya, kata faqiha yang mensyaratkan penggunaan akal, terdapat 16 ayat. Di dalam al Qur’an juga dijumpai kata tadzakkara (memperhatikan, mempelajari) dalam 40 ayat.

Selain dari kata-kata di atas terdapat pula di dalam al-Qur’an kata ulu al-bab (orang berfikir), ulul al-abshar (orang berpandangan), ulu al-ilm (orang berilmu) dan ulu al-nuha (orang bijaksana). Kata-kata tersebut merujuk, yang memberi sifat berfikir yang terdapat pada manusia.

Kata ayah sendiri, yang dalam indonesia menjadi “ayat”, terdapat hubungan yang erat sekali dengan pekerjaan berfikir. Jika melihat makna asli dari kata ayah adalah “tanda”. Lebih lanjut, kata ayah dalam arti ini kemudian dipakai untuk fenomena alam, yang banyak disebut dengan ayat al-kawniyah, yaitu ayat al-Qur’an yang membicarakan fenomena alam. Tanda, yang ditangkap dengan indera, mempunyai arti abstrak yang terletak di dalamnya. Tanda itu harus diperhatikan, diteliti, dipikirkan dan direnungkan untuk memperoleh arti abstrak yang terletak di belakangnya.

Di sisi lain, dalam diri santri selalu diajarkan untuk menghidupkan sifat-sifat fitrah manusia dengan selalu ingat kepada Allah. Fitrah manusia ini merupakan suatu nilai dasar dalam diri manusia. Dalam buku Emotional Spiritual Quetient (ESQ), karangan Ary Ginanjar Agustian, disebut dengan God-Spot. Manusia mempunyai “anggukan universal”, dimana sebuah nilai kebaikan yang itu ada pada tiap manusia. Dicontohkan, jika anda sedang makan pentol, kemudian disamping anda terdapat anak kecil menangis yang meminta makanan anda tersebut, maka apa yang anda lakukan? Secara fitrah orang akan mengiyakan bahwa makanan tersebut akan diberikan kepada si anak kecil yang menangis tadi. Sifat itulah yang terus digali dan dihidupkan dalam hati diri santri melalui ajaran-ajaran agama.

 

Berotak London, Berhati Masjidilharam

Karakterisitik santri yang mengedepankan sikap tawaduk, semangat berkorban, mandiri dan moderat ini menjadi kunci kemajuan dan kemenangan bangsa dalam era globalisasi saat ini. Ini karena bangsa yang kuat selalu ditopang oleh individu-individu kuat di dalamnya. Santri adalah salah satu elemen penting itu.

Santri masa kini dapat berperan aktif dalam berbagai lini kehidupan. Tantangan-tantangan etika global, terorisme, konflik etnis, hingga ketidakadilan ekonomi merupakan lahan garap santri yang sampai saat ini perlu untuk diperjuangkan. Semangat santri milenial ini seharusnya seperti slogan yang diciptakan oleh Pendiri Universitas Darul Ulum (Undar) K.H. Mustain Romly,”Berotak London, berhati Masjidilharam (Mekkah)”, santri yang berdimensi sangat global.

Dengan hidupnya akal dan hati itulah santri mempunyai potensi kekuatan besar sebagai Pendamai dan Penjaga persatuan negeri. Terlebih lagi, dalam konteks kekinian, aplikasi nyatanya adalah sebagai insan penengah dan pencerah di masa era digital yang sedang dipenuhi hoax di mana-mana. Saat ini, Indonesia dapat dikatakan sedang krisis refrensi yang benar-benar valid dan mudah diterima oleh masyarakat luas.

Kian memanasnya pencalonan presiden dan wakil presiden 2019 tahun depan, diprediksi akan semakin banyak hoax yang bertebaran dan membodohkan masyarakat, akan ada individu-individu yang mengambil momen ini untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, ntah dari kubu calon atau bukan, semuanya ada kemungkinan. Di sini lah peran santri sangat dibutuhkan.

Selain membentengi diri dari serangan-serangan hoax yang marak terjadi, Santri dapat membuat gabungan gerakan untuk mengklarifikasi informasi-informasi yang sampai ke masyarakat dengan sangat cepat melalui sosial media. Santri dapat berlaku sebagai intelektual organik yang tumbuh dari masyarakat  dan bergerak untuk masyarakat, sehingga gerakan-gerakannya lebih membumi, mudah untuk diaplikasikan, bukan hanya sekedar teori yang mengawang di atas awan. Semoga!

 

 

 

Leave a Reply

Next Post

Santri Pengawal NKRI

Sun Nov 4 , 2018
Lailatul Komariyah Satu hal yang tidak boleh terlewatkan, jika hendak berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, yaitu peran santri(dan Kyai). Pada peristiwa 10 November 1945, saat inggris mau menjajah Indonesia, santri berada di barisan depan menghalau dan berperang melawan penjajah. Hal itu tidak lepas dari Fatwa Hadratus Syekh Hasyim Asyari dengan Resolusi […]