Santri Pengawal NKRI

Lailatul Komariyah

Satu hal yang tidak boleh terlewatkan, jika hendak berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, yaitu peran santri(dan Kyai). Pada peristiwa 10 November 1945, saat inggris mau menjajah Indonesia, santri berada di barisan depan menghalau dan berperang melawan penjajah. Hal itu tidak lepas dari Fatwa Hadratus Syekh Hasyim Asyari dengan Resolusi Jihadnya pada 22 Oktober 1945.

Dengan sikap tawadhu dan taat pada seorang kyai, seorang santri akan melakukan apapun yang diperintahkan kyai salah satunya menjalankan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar Nadhatul Ulama tersebut. Adanya Laskar Hisbullah dan Sabilillah adalah bukti nyata perjuangan santri melawan penjajah hingga Indonesia dapat mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus ditahun tersebut.

Santri, yang diserap dari kata cantrik, adalah seseorang yang mendiami suatu tempat guna mempelajari ilmu. Tempat itu pada akhirnya disebut pesantren. Kehidupan santri di pesantren adalah kehidupan yang sederhana.mereka belajar cara hidup mandiri, tidak bergantung pada orang tua, orang lain dan dituntut untuk terbiasa menyelesaikan masalahnya secara mandiri dan bertanggung jawab.

Pesantren, yang merupakan miniatur dari masyarakat yang sangat kompleks sangat membantu santri sebelum terjun pada kehidupan di masyarakat. Hampir segala ospek yang dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat ada didala pesantren, contoh kecilnya kesederhanaan.

Pola hidup sederhana yang ada di pesantren sebetulnya adalah pembelajaran agar santri mampu bertahan hidup di masyarakat meski dalam kondisi yang penuh kekurangan. Dari kondisi itu, kreatifitas seorang santri akan terasa untuk memanfaatkan setiap potensi dan kesempatan yang ada.

Misalnya untuk tetap tampil rapi sedangkan penggunanaaan setrika dilarang di dalam pesantren, maka santri menggunakan bukunya atau benda lain untuk melipat dan menggunakan tangannya untuk meluruskan kerutan kerutan pada baju. Ini adalah tindakan kreatif dalam keterbatasan.

Kehidupan di pesantren mendidik santri menjadu anggota masyarakat yang baik dan bermanfaat. Dengan segala peaturan yang ada di pesantren, santri secara mental dipersiapkan menjadi orang yang tidak gugup dan apatis pada segal kompleksitas kehidupan di masyarakat. Bagaimanapun juga, ketika seseorang menjadi bagian dari masyarakat. Ia harus mampu memberikan kontribusi dan berpartisipasi pada setiap hal yang terjadi di lingkungannya.

Santri tidak boleh berdiam diri menyaksikan kemiskinan, kebodohan dan kesengsaraan yang dialami masyarakat sekitarnya. Mereka harus membantu masyarakatnya untuk hidup lebih baik dan layak. Tanggung jawab ini diajarkan di pesantren, misalnya merawat teman sekamar yang sedang sakit atau berbagi dengan temannya yang kirimannya telat. Sikap tanggung jawab sosial semacam ini sudah ditanam sejak awal di dalam pesantren.

Bahkan lebih jauh lagi, santri di tempa sedemikian rupa agar menjadi calon anggota masyarakat yang baik. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, santri dituntut untuk belajar menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat secara sopan, menerima kekurangan, sikap tenggang rasa dan saling menghormati. Hal-hal semacam itu tentu saja sangat beguna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Hal itu didukung pula oleh keluasan wawasan dan kedalaman pemahaman keagamaan yang dimiliki santri. Selain mempelajari ilmu agama, mereka juga diberikan pengetahuan umum yang itu tentu saja tidak penting baginya tapi juga masyarakat dimana ia tinggal. Terlebih lagi, yang ditekankan pada santri tidak sekedar belajar, belajar dan belajar. Yang lebih penting dari itu adalah amaliyahnya. Artinya, santri bukan hanya diharuskan untuk belajar tapi juga mempraktikkan apa ynag dipelajari.

Ada sebuah ungkapan yang umum ditemukan di pesantren, akhlakul karimah lebih mulia dari apapun itu juga termasuk kepintaran. Maksudnya, sikap dan tingkah laku adalah tujuan utama. Maksudnya sikap dan tingkah laku adalah tujuan utama bukan kepintaran atau kecerdasan.

Diluar sana mungkin mereka berlomba-lomba untuk meraih penghargaan dan piala, mereka beranggapan itu adalah suatu hal yang sangat penting berbeda dengan santri, memiliki sikap yang cenderung humoristis dan guyub. Menghadapi suatu persoalan yang keliatannya menegangkan, santri mampu membuat suasana lebih cair dan akrab. Mungkin sosok Gus Dur adalah prototype paling tepat yang mewakili bagaiman seorang santri menghadapi sebuah masalah.

Cobalah kita ingat kembali tokoh-tokoh macam Gus Dur, KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siraj, dan yang lainnya. Beliau semua berasal dari kalangan santri (yang akhirnya menjadi kyai besar) dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang pelit sekalipun, beliau menggunakan startegi komunikasi yang humoristis. Candaannya sangat renyah tapi logis.

Sikap humor ini jelas merupakan modal besar. Apalagi akhir-akhir ini sering terjadi pertengkaran yang tidak penting di dunia nyata maupun dunia maya akibat polarisasi pilihan politik. Kini presiden yang kurang baik untuk keberlangsungan hidup suatu negara yang terdiri dari berbagai ras, suku dan agama.

Bagaimana jadinya negara ini jika orang-orang yang bersikap tegang dan kaku pada suatu persoalan mereka hanya inginmemenangkan pendapatnya sndiri, menolak kriktik, dan bahkan bersikap tak mau tahu. Sudah waktunya kita tertawa bareng, meyelesaikan masalah bangsa bersama-sama dengan cara yang guyub dan penuh kekeluargaan.

Aliran santri memang seharusnya dapat mencairkan ketegangan-ketegangan yang terjadi. Perang urat saraf telah banyak menyita waktu dan energi bahkan, jika hal itu tidak dibendung, bukan tidak mungkin suatu hal buruk menimpa bangsa kita.

Dengan segala hal yang dimiliki seorang santri, sudah pantas kiranya. Kita menaruh harapan agar kembali menjadi penjaga dan pemersatu bangsa, seperti yang pernah dilakukan sejak dahulu. Oleh sebab itulah, santri adalah aset bangsa yang harus di pertahankan dan dikembangkan agar dapat terus mengawal NKRI. Majulah Indonesiaku dengan adanya santri menuju kemenangan.

Leave a Reply

Next Post

PCINU Tiongkok: Indonesia Harus Menempatkan Persoalan Muslim Xinjiang Dalam Perspektif Urusan Internal Pemerintah Tiongkok

Tue Dec 18 , 2018
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email   Beijing (nutiongkok.com) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Tiongkok menyatakan bahwa pemerintah Indonesia harus menempatkan persoalan muslim di Provinsi Xinjiang sebagai urusan internal pemerintah Tiongkok. “Bahwa Persoalan Xinjiang tidak bisa dikaitkan dengan kebijakan anti Islam. Yang dilakukan […]

PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA TIONGKOK (PCINU TIONGKOK)

Sanlitun SOHO, Gongren Tiyuchang North Road, Chaoyang District, Beijing

Telp: +86 13086805547, +86 15507839941 Email: pcinu_tiongkok1926@yahoo.com REDAKSI: redaksi@nutiongkok.com