PENGALAMAN SHALAT JUM’AT DI MASJID AGUNG DONG GUAN, XINING, TIONGKOK

Oleh: Ahmad Ishomuddin

Sebelum melaksanakan ibadah Jum’at, delegasi PBNU mengadakan tiga kali acara, pertama pertemuan dialog dengan para pimpinan Komisi Urusan Suku Minoritas dan Keagamaan Provinsi Qinghai, kedua dengan Asosiasi Islam Provinsi Qinghai, dan ketiga mengikuti jamuan makan siang bersama Mr. Ma Naixin (Wakil Ketua Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi Qinghai).

Kami menuju Masjid Agung Dong Guan, sebuah masjid kuno yang berusia sekitar 980 tahun. Kedatangan delegasi PBNU disambut oleh Imam Besar Masjid tersebut dan para pengurusnya yang sangat ramah. Mereka langsung mengantar kami ke tempat wudlu’ yang dipadati jamaah. Para pengurus masjid itu bukan saja sangat menghormati para tamunya, tetapi menunjukkan sikap rendah hati yang luar biasa dalam menyambut saudara-saudaranya. Di antara mereka ada alumni Madinah dan alumni Universitas al-Azhar yang fasih bercakap-cakap dengan bahasa Arab bersama kami. Mereka menjelaskan bahwa umat Islam di Tiongkok dalam ber-fikih mengikuti madzhab al-Imam Abu Hanifa (al-Hanafi), yakni mazhab fikih yang paling banyak dianut umat Islam sedunia, sedangkan di bidang Aqidah mengikuti petunjuk al-Imam Al-Maturidi.

Sebelum ibadah Jumat dimulai terdengar ceramah agama dengan bahasa Mandarin dengan dialek lokal (Xinghai) sekitar 40 an menit yang didengarkan oleh seluruh jamaah yang menurut pengurus berjumlah sekitar 20 ribu orang. Setelah itu dikumandangkan azan pertama yang dilanjutkan dengan shalat janazah, lalu shalat Sunnah Tahiyyatul-masjid, kemudian jamaah secara bersama melaksanakan shalat Sunnah Qabliyah Jumat sebanyak empat rakaat. Selanjutnya terdengar azan kedua yang dilanjutkan dengan dua khutbah Jumat yang sangat singkat, barangkali hanya rukun-rukunnya saja. Sangat berbeda dengan khutbah Jumat di Indonesia yang pada umumnya sangat panjang, hingga kadangkala membuat jenuh hati para makmum.

Begitu khutbah Jumat selesai, kami tidak mendengar ada iqamat, langsung dilaksanakan shalat Jumat. Surat Al-fatihah dibaca oleh imam tanpa basmalah, dan selesai waladldlaalliin tidak terdengar suara amiin, mungkin dibaca pelan (sirri) saja, karena barangkali demikianlah yang diajarkan dalam fikih Madzhab al-Hanafi. Selesai shalat Jumat, jamaah melaksanakan shalat Bakdiyah Jumat empat rakaat. Sedangkan delegasi PBNU langsung Shalat Ashar dengan cara jamak taqdim dan qashar menjadi dua rakaat diimami oleh Ketua umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.

Kami diminta tetap berada di kantor Masjid Agung Dong Guan sambil menunggu ribuan jamaah Jumat itu bubar. Mereka menjelaskan bahwa kaum muslim di Tiongkok hidup harmonis, rukun dan damai bersama kaum beragama lainnya dan juga mayoritas orang yang tidak beragama sama sekali.

Leave a Reply

Next Post

BERGURU KEPADA KYAI SAID

Sun Apr 28 , 2019
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Share it Email Oleh: Ahmad Ishomuddin Saya adalah orang yang sangat beruntung bisa mengenal dari dekat Prof. KH. Said Aqil Siroj, MA. sudah sejak lama, jauh sebelum beliau menjabat Ketua Umum PBNU. Oleh keluarganya beliau biasa dipanggil dengan sebutan buya. […]

PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA TIONGKOK (PCINU TIONGKOK)

Sanlitun SOHO, Gongren Tiyuchang North Road, Chaoyang District, Beijing

Telp: +86 13086805547, +86 15507839941 Email: pcinu_tiongkok1926@yahoo.com REDAKSI: redaksi@nutiongkok.com